mardi, novembre 14, 2006

Viennoise au chocolat


Sudah seminggu ini, saya tidak makan viennoise au chocolat. Cukup mengherankan, secara saya sangat menyukai makanan yang satu ini. Yang lebih scandalous, saya tak juga tak pernah membicarakan soal viennoise au chocolat di blog ini. Padahal, judulnya saja viennoise au chocolat. Isinya tak ada hubungannya sama sekali dengan makanan, kuliner atau apapun yang berurusan dengan dapur. PS. Suatu ketika, saya pernah me-launch web blog ini di sebuah situs Prancis, dan kemudian saya mendapat komentar berisi, "Je ne comprends pas!" Setelah saya track-down si pemberi komentar, ternyata dia adalah pemilik sebuah blog berisi resep-resep masakan! Ha, ha, ha!

Well, ngomong-ngomongn soal viennoise au chocolat, saya sudah melakukan survei di berbagai boulangerie yang ada di kawasan tempat saya tinggal. Totalnya ada 9 boulangerie, tapi baru 8 boulangerie yang sudah saya survei. Mereka rata-rata punya viennoise au chocolat yang lumayan enak, dengan harga yang bervariasi.

Boulangerie di bawah gedung apartemen mematok harga 80 cents, sedang Monoprix pasang harga 85 cents dengan rasa kurang satu point dari boulangerie bawah apartemen. Dua boulangerie yang lain sama-sama memasang harga 1 euro dengan rasa dan bentuk yang hampir sama. Saya jadi wondering, mungkin mereka punya supplier yang sama. Sedang boulangerie yang ada di belakang rumah mematok harga 1.20 dengan ukuran yang lebih mini, tapi memiliki pepite au chocolat yang lebih banyak. Dari catatan saya, harga paling mahal berhasil diraih oleh patissier/chocolatier Le Notre. Tak perlu heran, soalnya makanan yang ada di sini bisa dikategorikan ke dalam gastronomie, jadi harganya pun cukup premium.

Tapi seberapa pun harganya atau apapun rasanya, viennoise selalu punya bentuk yang sama: panjang mirip baguette. Teksturnya seperti roti alias brioche, dan ditaburi dengan pepite au chocolats alias chocolate chips. Hmm, yummy!

Karena Setiap Manusia Tak Pernah Merasa Puas

A: "Aku sangat tidak suka dengan negeri ini. Orang-orangnya sombong dan angkuh. Aku ingin tinggal di suatu negeri yang penuh dengan matahari, di mana orang-orangnya selalu tersenyum."

B: "Ih, kalau aku, sih, ogah tinggal di ... (menyebutkan nama sebuah negara). Panas, sumpek, polusi, sudah begitu di sana semua orang korupsi! Di sini jauh lebih enak, semua serba teratur."

C: "Kalau di sini (sambil menyebutkan nama sebuah negara di belahan dunia utara), orang-orangnya rasis. Sudah beberapa tahun tinggal di sini, hatiku masih ada di rumah orang tua."

D: "Di tempatku tinggal (sambil menyebutkan nama kawasan tempat dia tinggal) orang-orangnya juga rasis. Sudah begitu kerusuhan ada di mana-mana. Orang membakar bus, melempari batu... Serem, deh. Paling enak memang tinggal di .... (menyebutkan suatu kawasan yang sangat indah)."

E: "Aduh, aku kangen sekali dengan sate dan lontongnya."

F: "Di sini apa-apa mahal. Sepertinya, negara ini hanya diperuntukkan buat orang-orang berduit."


Kutipan-kutipan itu sempat terdengar oleh saya, dari berbagai sumber. Orang yang curhat saat sedang makan-makan, orang yang mengeluh soal kondisi hidupnya di internet...

Konklusinya cuma satu: karena setiap manusia tak pernah merasa puas!

Bye, Bye, My Ex Boyfriend


Kalau ada satu orang yang sedang saya benci saat ini adalah one of my exes. Yup, dari beberapa relationship yang pernah sayajalani, ada satu mantan pacar yang rupanya tak bisa menerima kondisi ini. Yup, dia saya putuskan beberapa tahun yang lalu, dengan alasan kita sudah tidak saling cocok. Dan yup, hingga kini, dia masih merasa sakit hati dan kemudian membenci saya.

Enam tahun berlalu setelah tragedi pemutusan sepihak itu, tiba-tiba dia nongol dalam diri hidup saya lagi. Bukan, bukan, bukan untuk menjalin hubungan. Sebetulnya masih ada satu urusan yang belum terselesaikan. Urusannya pun cukup sepele, dan sekali lagi, dia membuatnya menjadi tidak sepele lagi. Jadi ceritanya begini, saat putus dulu, saya masih meninggalkan beberapa personal articles di rumahnya. Dan saya selalu tak punya kesempatan untuk mengambilnya. Lalu sayakan kepada si eks ini, "Tolong barang-barang saya disumbangkan kepada badan amal saja." Bukannya disumbangkan, barang-barang itu malah di-keep hingga sekarang. Padahal saya tahu dia begitu membenci saya, dan makin benci karena masih menyimpan barang yang mengingatkan dia kepada saya. Tapi salahnya sendiri, sudah saya bilang untuk "dibuang", dia tak mau membuangnya.
Singkat cerita, dia pun mengkontak saya untuk mengembalikan barang-barang itu. Pada hari yang dijanjikan, saya datang ke tempat itu sambil ditemani oleh seorang teman (setelah si teman saya SMS dengan bunyi: "Tolong temani saya, daripada nanti terjadi pembunuhan").
Pertemuan pun terjadi di Gare de Lyon. Setelah melalui konversasi yang cukup alot karena si eks membuat semua ucapan dan perkataan terdengar menjadi sangat complicated, tas yang berisi barang-barang itu pun berpindah tangan. Sampai di rumah, saya langsung membongkar tas... surprise! Saya menemukan beberapa baju yang berukuran XL (sama sekali bukan ukuran saya, mengingat saya pakai ukuran XS atau S!). Pun ditambah dengan satu jaket bertuliskan "Agronomy School" (sama sekali bukan Cosmo, tentu saja!).
Saya pun mengkontak yang bersangkutan mengenai barang-barang nyasar ini, dan menawarkan kepadanya agar saya bisa menyumbangkan barang-barang ini ke badan amal. Tapi apa jawabnya? "Jangan diberikan ke badan amal, kembalikan saja kepada saya!'
Aduh, kenapa urusan sepele ini pun jadi bikin saya pusing kepala? Saya sungguh berharap bisa menyumbangkan kepada Komite Kemanusiaan buat Madagaskar, misalnya.

Sekali lagi, saya pun harus menenteng tas berisi barang-barang butut itu. Dan hari itu saya mendapat kejutan lain lagi dari dirinya. Kali ini, dia mengembalikan barang-barang yang saya berikan kepadanya sebagai kado !

Dalam hidup saya, saya tak pernah sekesal dan semarah itu. Tapi sudahlah, mungkin itu adalah harga dari pemutusan hubungan sepihak yang saya lakukan kepadanya. Tapi mengembalikan barang-barang pemberian setelah hubungan berakhir? Oh, oh, oh!

Akhirnya, saya pun memutuskan (sekali lagi), saya sudah tutup buku dengannya. Enam tahun lalu saya pernah tutup buku dengannya, dan kali ini buku itu akan tertutup selama-lamanya.

Mon petit conseil de vie:
Apa yang harus dilakukan jika barang-barang mantan masih ada di tempat Anda?
Tak ada cara lain selain: buang, bakar atau enyahkan dengan cara yang boleh Anda pilih sendiri.

mercredi, octobre 18, 2006

“Bahkan Nino Saja Kawin!”









Saya tak tahu apakah ini sebuah compliment atau insult, tapi ternyata saya ini sempat menjadi suatu patokan bagi teman-teman saya di Indonesia. Lebih tepatnya patokan soal kawin. Soalnya, bisa dibilang, saya mungkin termasuk kategori malas kawin, telat kawin, tak terlalu laku, atau bagaimana, karena pada akhirnya, saya baru menikah di penghujung usia 33. Secara materi dan emosi (?) mungkin saya dibilang sangat siap. Saat itu saya punya karier yang cemerlang, kehidupan pribadi yang stabil dengan uang yang tak berlebihan, tapi sangat berkecukupan untuk kehidupan yang cukup layak. Masalahnya, ya, satu itu. Tak punya pendamping. Padahal kalaupun ada pria yang bersedia jadi pendamping saya, saat itu dia boleh cuma modal dengkul doang. Datang saja ke rumah saya, semuanya sudah tersedia. Tapi, apa boleh buat, ternyata tak ada juga yang berniat mengetuk pintu rumah saya.

Menurut bisikan dari beberapa teman, kondisi saya yang serba mapan itu pula yang sebetulnya membuat para pria sempat keder buat mendekati saya. Dikatakannya, saya terlalu mapan dan mandiri untuk wanita seusia saya. Jadi, kesimpulannya, para sahabat itu menganggap kalau saya tak butuh pria. Kondisi seperti ini memang sempat berlangsung beberapa lama, dan mencapai puncaknya sekitar dua tahun lalu. Bahkan orang tua saya pun sudah pasrah, dipikirnya saya lebih senang bekerja dan tak mau kawin. Aduh! Hingga akhirnya, saya bertemu dengan pria pilihan bernama Monsieur M, perjaka tingting dari Prancis yang bak diturunkan Tuhan dari langit untuk saya. Singkatnya, saya pun memutuskan menikah.

Saat berita itu tersebar, teman dan kerabat menunjukkan berbagai ekspresi yang berbeda. Ada yang bahagia (“Selamat, Nino, akhirnya….”), ada juga yang was-was (“Kamu sudah yakin dengan pilihan kamu?”), ada yang sedih-campur-senang-karena-perspektif-yang-berbeda (“Nino, kalau kamu pindah ke Paris, aku tak punya teman bermain lagi!”). Dan di antara ekspresi-ekspresi itu, ada satu ekspresi yang menurut saya adalah lucu sekali. Ekspresi jealous! Bukan apa-apa, teman yang ini menganggap saya membelot dari janji setia persahabatan kita (“Yahhh… kamu, kok, kawin? Aku jadi kehilangan teman senasib, deh. Tapi, ya, sudahlah, selamat, ya!”). Ha-ha-ha-ha….

Anyway, selain ekspresi-ekspresi itu, saya juga menerima berbagai email “curhat”, antara lain di bawah ini:

“Dear Nino, saya mendengar soal berita pernikahan kamu. Selamat, ya. Tadinya saya pikir kamu tak akan pernah menikah. Habis, kamu adalah wanita karier yang selalu dinamis, mandiri, dan selalu berorientasi kerja. Saya rasa, kehidupan pribadi tidak penting jadinya buat kamu.... (bla-bla-bla-bla)”

“Dear Nino, aku sedang sedih sekali. Biasa, soal cowok lagi. Tapi yang ini agak complicated soalnya. Aku baru cerita sama kamu sekarang, soalnya kamu pasti sedang sibuk mempersiapkan pernikahan. Tapi aku sudah cerita kepada teman-teman yang lain (note: teman ini menyebutkan beberapa nama our common friends), dan mereka menyarankan kepadaku untuk meneruskan hubungan saja. Kata mereka begini, ‘Apa sih yang kamu cari. Sudahlah, terima saja apa adanya. Tuh, lihat, Nino saja sekarang kawin!”

Hmmmm…, kembali saya tertawa tergelak-gelak. Mungkin benar juga, selama ini saya dilihat orang sebagai wanita yang tak butuh lelaki. Terus terang, sebetulnya siapa bilang? Di dalam hati saya selalu tersimpan keinginan untuk hidup berpasangan, kok, cuma mungkin hal itu tak pernah saya perlihatkan. Hingga kalau akhirnya saya menetapkan pilihan, itu bukan karena tiba-tiba. Semua sudah direncanakan, dengan bantuan Yang Maha Kuasa, tentu saja!

Mon petit guide de vie pour les dummies:
“Cinta sejati akan datang hanya pada saat yang tepat. Dan cinta tahu kapan saat yang tepat itu tiba!” – Nino, inspired by an article appeared in Cosmopolitan France.

mardi, octobre 17, 2006

Oh, My Celine!



Jadi ceritanya begini, menurut kalangan fashionista, tas menjadi aksesori wajib yang bisa membuat penampilan menjadi sangat super OK. Istilahnya, kalaupun kita hanya mengenakan jogging pants dan sneakers, tapi sebaiknya tentenglah tas sekelas Hermes, agar penampilan jadi “naik”. Makanya, tak heran kalau semua fashonista selalu berlomba tampil dengan aksesori tas paling mutakhir. Lihat saja, setiap majalah wanita di belahan dunia mana pun tak pernah absen membahas informasi soal tas-tas dari designer paling mutakhir.

Saya, meskipun hanya sebagai fashionista amatir, juga sadar dengan hal itu. Salah satu tas andalan yang sangat saya sayangi sekarang adalah Boogie Bag-nya Celine. Bentuknya sebetulnya sederhana, tapi sangat elegan. Dan yang penting, tas ini juga cukup fungsional, karena bisa memuat lumayan banyak item di dalamnya.
Suatu hari, saya harus menemui pihak yang berwajib untuk mengurus surat-surat di Paris. Dengan penuh semangat, saya pun mendatangi alamat tersebut ditemani oleh tas Celine kesayangan saya itu. Sesampainya di sana, ternyata saya diminta untuk menemui bagian urusan luar negeri yang berada jauh dari tempat tersebut. Saya hanya manggut-manggut saja saat diberi alamatnya. Saya tak sadar, kalau tempat itu terletak di daerah “antah berantah”, di sebelah barat laut kota Paris. Dan untuk mencapai kawasan itu, saya harus berganti beberapa metro. Dengan penuh seksama, saya pun meneliti jalur-jalur metro yang harus saya lalui. Damn, saya harus melewati daerah yang saya tahu adalah “jalur hitam”: Barbes. Yah, ekuivalen untuk daerah ini di New York adalah Harlem.

Sambil berdoa, saya pun melangkahkan kaki menuju ke tempat tujuan. Tiba di Barbes, saya harus berganti metro. Benar saja, stasiun metro yang hiruk pikuk itu dipenuhi dengan berbagai manusia dengan berbagai “parfum” yang berbeda. Bukannya saya rasis, tapi kebanyakan orang dengan suatu jenis kulit tertentu (saya tak berani menyebutkannya di sini) memang mengandung wewangian alami yang cukup menyengat. Dan rata-rata orang berjenis kulit ini bertubuh besar, dan paling hobi menyeruak begitu saja di tengah keramaian. Saat naik metro, mereka tak segan main sodok (mentang-mentang badannya besar!). Alhasil, saya pun berusaha menyelinapkan badan saya yang cukup petite ini di tengah “pohon-pohon gelap” yang ada di dalam gerbong metro. Tentu saja, saya tak lupa memeluk erat-erat Celine saya. Seakan tak rela kalau ada yang menggores si Celine warna oranye kesayangan saya itu. Aduh, pokoknya sungguh tidak matching saja menenteng Celine di tempat seperti itu. Dan terlebih lagi, daerah Barbes memang termasuk kawasan yang dinilai cukup rawan. Jadi kita harus lebih pasang mata mengawasi barang-barang bawaan kita. Tas terbuka sedikit bisa mengundang bahaya!

Untungnya saya berhasil melewati daerah itu dengan selamat. Lega sekali rasanya saat keluar keluar dari gerbong metro butut itu. Ah, lain kali saya tak akan membawa si Celine jalan-jalan di kawasan itu lagi! Sejak saat itu, Celine pun beristirahat dengan tenang di dalam lemari, menunggu giliran untuk menemani saya hanya di tempat-tempat yang wangi!

Mon petit guide de vie pour les dummies:
- Seberapapun “accro”-nya Anda pada tas-tas mahal, sebaiknya setidaknya miliki juga “tas kurang mahal” yang pasti akan berguna. In case ada rendez-vous mendadak di tempat yang kurang menarik, Anda tak perlu jantungan memikirkan keselamatan tas mahal yang tak berasuransi itu!
- Tak perlu pedulikan dulu kata fashion consultant yang mengatakan kalau tas selempang kecil itu sudah "so last season"! Tas remeh-temeh ini pasti akan sangat berguna untuk, misalnya, belanja di supermarket di depan rumah atau beli baguette di boulangerie sebelah. Anda tak perlu selalu menenteng Muse-nya YSL itu ke sana ke mari, bukan?

Kita Harus Berani!





Sahabat saya di Jakarta, sebut saja namanya Romeo, berulang kali mengeluh kepada saya. Katanya, dia pengen sekali kawin. Maklum, umur sudah lewat dari 30 tahun, punya pekerjaan tetap yang lumayan keren, punya rumah sendiri, tapi belum punya pasangan. Dia mulai gelisah saat semua teman sepantarannya sudah mulai menggendong anak. Makanya, dulu dia selalu menelepon saya dan mengeluh panjang lebar soal keinginannya “berlabuh”. Saat saya tanya apakah dia punya pacar, dia bilang tidak. Adakah wanita yang ingin dipacarinya? Dia menggeleng kepala. Akhirnya, saya jadi geregetan juga. Bagaimana mungkin, katanya ingin kawin, tapi kenapa dia tak melakukan action? Mungkin saja, jodoh tak datang gedubrak dari langit, jika kita tak berusaha untuk mendapatkannya.

Lain waktu, teman yang lain lagi mengeluhkan hal yang lain. Soal karier. Dia, sebut saja namanya Sheila, sebetulnya punya pekerjaan yang cukup stabil. Tapi kemudian dia bilang ingin berganti pekerjaan, karena ia merasa kariernya sudah mentok, dan dia ingin lebih mengembangkan kemampuan. Saat saya tanya apakah dia sudah mencari pekerjaan yang diinginkan, dia bilang, “Ya, belum, sih!” Aduh, bagaimana ini! Kembali saya geregetan lagi. Mimpi tak datang gedubrak begitu saja dari langit. Mimpi itu harus diraih, dengan usaha. Dengan perjuangan.

Pening karena keluhan dua orang teman itu, saya pun mulai melakukan interogasi kepada keduanya. Belakangan dua orang ini mengatakan kalau sebetulnya mereka takut dengan mimpi mereka. Takut untuk melakukan usaha, karena takut melihat hasilnya. “Saya belum siap dengan penolakan,” kata keduanya, di dua kesempatan berbeda.

Ada satu pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini. Mimpi itu tidak datang begitu saja jika kita tidak niat untuk melakukannya. Jika kita mau, kita pasti bisa. Yang perlu dilakukan adalah berjuang dan berusaha. Dengan sambil berdoa, tentu saja.

Mon petit guide de vie pour les dummies:
Anda punya mimpi?
1. Jabarkan dengan jelas mimpi atau target hidup Anda. Saat sudah jelas apa yang diinginkan, Anda akan lebih mudah untuk memvisualisasikan langkah-langkahnya.
2. Buat rencana jangka pendek dan jangka panjang terhadap mimpi atau target hidup itu. Istilahnya, bikin strategi kecil-kecilan begitu!
3. Setelah itu, mulailah untuk merealisasikan mimpi tersebut, dari yang terkecil dulu. Sebuah langkah besar selalu dimulai dari langkah yang kecil, bukan?
4. Jangan peduli kata orang. Hidup ini adalah milik Anda. Kalah atau menang, hanya Anda yang punya standar!

mercredi, octobre 04, 2006

Do We Always Need to Walk Tall?


Dulu, saat masih tinggal di Jakarta, saya tak pernah bisa meninggalkan sepatu stiletto saya. Harus setinggi minimal tujuh senti, agar bisa menopang tubuh saya yang tingginya pas-pasan ini. Terus terang, pakai sepatu tinggi memang selalu membuat saya tampil percaya diri dan allure keseksian pun langsung mengalir deras. Rasanya bagaimana, begitu…, pokoknya senang saja. Dan hal itu saya lakukan setiap hari di hari kerja, bahkan kadang-kadang di akhir pekan kalau lagi ingin kecentilan jalan-jalan di Plaza Senayan atau Plaza Indonesia.

Tapi sekarang semua itu sudah berakhir. Semua stiletto saya sedang tidur dengan manisnya di dalam lemari. Soalnya, bagaimana mungkin saya mengenakannya di Paris yang setiap jalannya terbuat dari cobblestones itu? Sungguh sangat tidak enak rasanya, sudah pasti!

Seorang sahabat di Jakarta, Yonce, sempat memprotes keputusan saya untuk meninggalkan stiletto, escarpins, high-heels atau apapun namanya itu ke dalam lemari. “Tapi Mbak, kan, identik dengan sepatu itu. Lagipula, sepatu seperti itu bikin kaki menjulang!” katanya.

“Tidak, Yonce, aku tak ingin kakiku lecet-lecet,” kata saya.

“Tapi kenapa Carrie saja bisa tetap pakai stiletto untuk jalan-jalan di Paris?” dia masih ngotot menyebutkan kalau Carrie Bradshaw si Sex and the City itu hobi jalan-jalan di Paris dengan stiletto-nya.

“Itu hanya film, Yonce,” bantah saya.

“Tapi….,” Yonce masih meneruskan debatnya hingga beberapa lama.

OK, untuk menghormati Yonce yang sangat menentang saya meninggalkan item fashion favorit itu, saya pun memaksa mengenakan stiletto menjelajahi jalan di Paris. Sore itu, saya janjian dengan Monsieur M untuk nonton film, di UGC George V di kawasan Champs Elysees. Dia akan langsung berangkat dari kantor dan kami ketemuan di sana. Jadi, saya harus berangkat dari rumah dengan mengendarai metro. Tahu kawasan itu sangat hip dan chic, saya pun dandan cantik, lengkap dengan stiletto warna pink yang matching dengan blazer yang saya kenakan.

Saya tiba terlebih dulu di George V, setengah jam lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Saya pun buru-buru langsung ke loket untuk beli tiket. Zut! Ternyata tiket habis, maklumlah, hari itu adalah hari pertama pemutaran film yang akan kami tonton itu. Tak heran, tiketpun langsung habis.

Tanpa hasil, saya keluar dari bioskop. Sementara itu, Monsieur M mengabarkan kalau dia masih di perjalanan. Daripada bengong menunggu, saya pun turun ke trottoir Champs Elysees yang sore itu dipenuhi orang-orang yang lalu lalang. Sekalian window shopping, saya meneruskan perjalanan saya di kawasan paling terkenal di Paris itu. Tak terasa, makin lama saya jalan, makin terasa sakit menyengat di kaki saya. Jalan saya pun makin terseok-seok.

“Mon ange, saya tunggu kamu di FNAC ya, bagian aksesori kamera,” kata saya kepada Monsieur M via telepon. Saya masuk ke toko musik, librairie dan toko peralatan elektronik untuk membeli memory card buat kamera saya sekalian mengistirahatkan kaki saya yang mulai kesakitan.

Dua puluh menit kemudian, Monsieur M tiba dengan senyumnya yang lebar.

“TIketnya sold out, mon ange!” kata saya.

“Tak apa, kita pergi nanti lain kali saja! Sekarang kamu mau ke mana?”

Saya hanya bengong. Mau ke mana bagaimana? Kaki ini sudah terasa bikin saya mau mati! Tadinya saya bilang pingin pulang, tapi, kok, sayang juga, saya sudah dandan cantik-cantik, masak langsung pulang saja?

“Kalau begitu kita makan di Matsuri, yuk!” kata Monsieur M sambil menyebutkan nama restoran Jepang yang super enak yang ada di Paris 16 yang mahal itu (note: Sushi Tei silakan minggir dulu).

Saya mengangguk sambil tak bisa membayangkan bagaimana saya bisa mencapai ke restoran Matsuri. Jangankan jalan kaki ke stasiun metro, masuk dan keluar setelah itu naik dan turun tangga-tangga gila di statiun metro itu, bahkan keluar dari toko FNAC saja rasanya sudah tak sanggup. Ingin rasanya saya lepas saja sepatu itu dan jalan kaki barefoot. Tapi, tak mungkin!

Akhirnya, perjuangan saya ke Matsuri dilalui dengan penuh peluh dan wajah yang meringis kesakitan. Setiba di Matsuri, saya sudah tak tahan lagi untuk melepas sepatu, dan duduk dengan manisnya di sushi bar sambil menghabiskan enam piring sekaligus! Maafkan diriku, mon ange, tapi kaki-kaki yang sakit ini memang butuh kompensasi mengunyah menu enak!

Guide de vie pour les dummies:
Ada kencan dan tak tahu pakai sepatu apa?

1. Pastikan Anda tahu lokasi restoran tempat kencan diadakan. Fungsinya ada beberapa: kalau tempatnya chic, rasanya Anda memang harus pakai sepatu untuk la soiree. Selain itu, Anda juga jadi bisa memperkirakan seberapa banyak Anda akan berjalan.
2. Tanyakan kepada pasangan: naik mobil atau metro? Kalau naik metro, pertimbangkan juga kondisi stasiun metro, banyak tangganya tidak?
3. Ketahui juga jadwal acara selanjutnya: hanya makan saja, atau mau pakai jalan-jalan sok beromantis ria menyusuri kawasan? Kalau pakai banyak jalan: lupakan dulu stiletto.
4. Jika semua informasi itu sudah didapat tapi Anda tetap keukeuh ingin pakai stiletto, ingat saja ungkapan ini: kalau Anda memang sudah siap mati tapi yang penting tetap gaya, ya, silakan saja!

Kenapa, Sih, Harus Jahat Begitu?



Agaknya saya masih sakit hati dengan perlakuan para pejabat yang sewenang-wenang membuat hati saya kerap terguncang itu. Betul, pembicaraan kita masih seputar pembuatan surat ijin tinggal yang sangat berwasiat itu. Habis bagaimana, apalah artinya diri saya ini tanpanya.

Entah apa yang terjadi, rasanya semua personnel yang ada di kantor polisi itu punya tipikal yang sama. Wajah disetel masam, bicara dengan nada meninggi dan sama sekali tidak sabaran. Kalau mau dibanding-bandingkan, mereka adalah kebalikannya para pramugari maskapai penerbangan asing yang selalu ramah dan penuh dengan senyum. OK, atau mungkin PR hotel berbintang yang selalu bicara dengan manis dan lembut.

Sejak pertama kali datang dan masuk ke bagian pemeriksaan hingga ke konter penerimaan, saya memperhatikan comportement setiap orang yang bekerja di kantor itu. Tak ada satu pun personnel yang ada di sana yang memasang wajah menarik. Semuanya sama! Semua keterangan disampaikan dengan sesingkat mungkin, dan terkesan tergesa-gesa. Jika ada keterangan yang kurang jelas, mereka akan menjawab dengan, “Je vous ai explique….” alias kira-kira, “Tadi, kan, sudah saya jelaskan!” Oh, oh, oh….

Malam harinya, saya ceritakan hal itu kepada Monsieur M. “Bebe, kenapa, sih, mereka jahat sekali, ya, sama orang-orang asing? Padahal aku, kan, cuma Tanya doing!” Entah karena dia capek sepulang kerja atau lagi sibuk mengurusi bursa efeknya di depan komputer, dia hanya berkomentar pendek, “Ah, bon?”

Dua hari kemudian, saya pun menggeret Monsieur M untuk datang ke Hotel de Police bersama saya. Apalagi beberapa teman juga menyarankan agar suami yang berhidung mancung, bermata biru dan berkulit putih itu tolong dibawa serta menghadap pejabat yang berwenang. Untuk tahap awal, memang kehadiran suami tidak wajib. Tapi untuk interview pada proses selanjutnya, kehadiran suami harus ada, untuk membuktikan kalau perkawinan tersebut sah dan bukan perkawinan bohong-bohongan!

Betul saja, bersamanya, saya mendapat perlakuan yang lebih manusiawi! Mbak-mbak yang ada di bagian pemeriksaan tas pun tersenyum ramah kepada saya dan Monsieur M! Sisanya, ibu-ibu yang ada di bagian loket, meskipun tak sampai becanda-canda, memperlakukan kami dengan baik hati, sehingga urusan berjalan lancar. Thanks to Monsieur M!

Terus-terang, pengalaman ini sempat menyentil benak saya: kenapa, ya, orang-orang yang mengurusi permohonan perijinan biasanya selalu berkelakuan seperti itu? Apakah karena tuntutan profesi? Apakah mereka tak tahu apa artinya sense of service, consumer service atau consumer satisfaction? Apakah wajah itu tetap dibawa hingga ke rumah selepas kerja? Pernah tidak, ya, mereka tersenyum dan becanda?

Beberapa pemikiran itu sempat membuat saya ingin mewawancarai mereka. Tapi tentu saja niat itu terpaksa harus saya urungkan sejenak mengingat urusan saya sendiri belum beres.

Sambil menunggu gebrakan feature terhebat abad ini, berikut ini “mon petit guide de vie pour les dummies”, cara mempersiapkan diri menghadapi situasi seperti ini:

1. Lengkapi diri Anda dengan informasi sebanyak-banyaknya (termasuk lokasi kantor, jam buka dan bagaimana cara pergi ke sana).
2. Sangat penting: lengkapi semua dokumen yang diperlukan. Sekali lagi, jangan lupa harus semuanya lengkap!
3. Pergilah di pagi hari saat jiwa dan pikiran masih bersih. Ditambah dengan energi yang masih full, Anda pasti tak akan mudah naik darah.
4. Jangan lupa sarapan yang enak ya. Moga-moga bisa memicu hormon penambah kekuatan emosi Anda.
5. Siapkan budget ekstra, sewaktu-waktu emosi Anda sempat terguncangkan, Anda tinggal melangkah kaki ke mall terdekat.
6. Biarkan saja mereka seperti itu. Tak perlu keisengan membeli boneka voodoo atau menyiakan jampi-jampi untuk balas dendam. Berdoa sajalah kalau kelakuan mereka akan dibalas oleh Yang Lebih Kuasa!
7. Berikan selamat kepada diri sendiri once Anda berhasil mengatasinya! Bravo!

Titre de Sejour


Selembar kertas di samping ini memang kelihatannya biasa saja. Kertas kecil warna biru yang nggak jelas ini (tapi mungkin kode warnanya bisa ditemukan di color chart Pantone) dengan tulisan ketikan yang agak kabur-kabur gitu. Kalau dilihat dari penampilan, sih, mungkin kurang meyakinkan. Tapi, tunggu dulu, jangan tanyakan keampuhannya. Soalnya tanpa surat kecil ini, saya tak akan bisa berkutik tinggal di negara berbendera tricolor ini.

Yup, saya lagi bicara soal “titre de sejour” a.k.a surat ijin tinggal. Maklumlah, namanya baru pindah ke negara orang, urusan perijinan ini termasuk jadi prioritas nomor satu, selain adaptasi dengan iklim asing. Dan pengalaman mendapatkan “titre de sejour” impian ini selalu punya cerita tersendiri. Tapi emosi yang keluar saat mengurus TS (“titre de sejour”) ini selalu diliputi perasaan stress dan was-was. Memang rasanya paling tak enak saat harus berhubungan dengan para pejabat yang berwenang (tak di Indonesia, tak di negara orang!). Dan, pejabat yang berwenang di sini terkenal tak bisa beramah-tamah dengan para pendatang. Maklumlah, di sini kan banyak imigran yang ingin seenak udel tinggal di negara yang katanya super stylish ini.

Well, tahun ini bukan pengalaman pertama saya mengurus TS ini. Sekitar tujuh tahun lalu, saat masih berstatus etudiante, saya juga pernah mengalami kondisi yang bikin emosi jiwa bergolak ini. Ceritanya, waktu itu saya sudah lulus kuliah dan bermaksud bekerja di Paris. Saya sudah mendapat kerja, sayang status yang saya dapat kurang menguntungkan. Saya cuma dapat kerja semacam CDD alias kontrak terbatas selama 6 bulan. Alhasil secara berkala saya harus bertandang ke Prefecture de Police yang ada di kawasan Cite yang terkenal sangat menyeramkan itu. Prefecture de Police yang satu ini adalah kantor pusat untuk mengurus kartu ijin tinggal (sementara itu, kantor walikota masing-masing arrondissement juga menyediakan biro seperti ini tapi untuk pengurusan awal saja). Buat apa lagi jika bukan untuk mengurus titre de sejour yang didambakan itu. Yang paling bikin sebal, tentu saja adalah kelakuan para pegawai di sana yang selalu melayani dengan muka masam, tak sabaran, plus dengan nada membentak. Hati saya yang saat itu sedang rapuh tentu saja langsung menjadi sangat sensitif!

Well, enam tahun berlalu sejak saya meninggalkan Paris di tahun 2000, kok, ya, nasib membawa saya kembali ke kota ini. Dan tentu saja berurusan dengan autorites lagi! Hiks!

Hanya saja, kali ini saya agak bisa bernapas lega. Soalnya status saya bukan lagi etudiante asing yang dicurigai bakal bercokol di negara ini. Saya datang dengan membawa surnom alias family name baru: Mouton. Biarpun tetap dilayani dengan wajah masam dan nada sengak, dalam waktu beberapa menit saya sudah mendapatkan kartu ijin tinggal, meskipun baru bersifat sementara. Alhamdulillah, semua itu berkat mon ange Monsieur M yang selalu setia menemani saya menghadapi kemasaman para ibu yang menjaga loket di Hotel de Police di kawasan Place de Clichy itu. Prochain rendez-vous: Prefecture de Police di kawasan Cite yang menyeramkan bulan Desember 2006! Doakan, ya!

Petit guide de vie pour les dummies:
Jika Anda pindah ke luar negeri:
1. Begitu tiba di negara tersebut, lebih baik segera laporkan kedatangan Anda di KBRI.
2. Selanjutnya, tanyakan soal pengurusan ijin tinggal. Biasanya kantor KBRI di masing-masing negara bisa memberikan info ke mana Anda harus pergi
3. Telepon juga kantor biro lokal yang mengurusi orang asing. Tanyakan dokumen apa yang harus dilengkapi.
4. Tanya-tanya juga kepada teman-teman Indonesia yang sudah lebih dulu tiba di negara tersebut. Minta bantuan kepada teman untuk menemani Anda. Paling tidak, saat kebingungan di kantor polisi, Anda tidak sendiri.